oleh

Pengamat Ekonomi: Arahan Presiden Gunakan Daging Sapi dalam Menu MBG Bagus, Namun Berisiko Tekan Peternak Ayam

-Kabar Daerah-144 Dilihat

Medan – Arahan Presiden Prabowo Subianto agar program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak lagi didominasi telur dan daging ayam, melainkan mulai menggunakan daging sapi, dinilai sebagai langkah positif untuk mendorong diversifikasi sumber protein. Namun demikian, kebijakan tersebut perlu dikaji secara matang karena berpotensi menimbulkan dampak ekonomi lanjutan, khususnya bagi peternak ayam.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai, kebijakan tersebut bertujuan agar konsumsi protein masyarakat tidak bertumpu pada komoditas yang monoton. Menurutnya, ketergantungan pada satu jenis sumber protein dapat memicu lonjakan harga akibat tekanan permintaan.

“Langkah Presiden Prabowo ini bagus karena mendorong variasi sumber protein. Jika hanya telur dan ayam yang digunakan terus-menerus, risikonya adalah kenaikan harga di komoditas tersebut,” ujar Gunawan, Selasa (6/1/2026).

Namun, ia mengingatkan bahwa fokus penggunaan daging sapi dalam skala besar, seperti pada program MBG, menyimpan persoalan tersendiri. Dari satu ekor sapi, daging yang dihasilkan hanya sekitar 46 hingga 53 persen dari total bobot tubuh. Sementara sisanya berupa kulit, tulang, usus, jeroan, paru, lidah, dan organ lain yang juga memiliki nilai ekonomis.

“Jika konsumsi hanya difokuskan pada dagingnya saja, maka nilai ekonomis bagian lain akan dibebankan ke harga daging sapi. Ini membuat harga pokok produksi daging menjadi lebih mahal,” jelasnya.

Menurut Gunawan, memang ada opsi untuk menjual bagian sapi non-daging ke pasar. Namun skenario ini justru berpotensi memunculkan masalah baru berupa limpahan pasokan produk turunan sapi yang dapat membanjiri pasar.

Ia mencontohkan, untuk satu provinsi dengan sekitar 10 juta penerima manfaat MBG, kebutuhan daging sapi bisa mencapai sekitar 11 ribu ekor sapi per bulan, dengan asumsi menu daging sapi disajikan satu kali dalam sepekan. Kondisi tersebut akan menghasilkan volume besar produk sampingan sapi yang berpotensi menekan harga pasar.

“Jika harga produk sapi turun drastis, konsumsi protein masyarakat bisa bergeser besar-besaran ke produk sapi. Ini tentu menjadi ancaman serius bagi peternak ayam,” katanya.

Gunawan menilai, solusi yang lebih masuk akal adalah memanfaatkan seluruh bagian sapi yang bernilai gizi sebagai menu MBG, tidak hanya dagingnya. Dalam hal ini, peran ahli gizi dan chef di setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi sangat penting.

“Jika MBG bisa mengolah sumber protein dari sapi secara menyeluruh, maka stabilitas harga protein bisa lebih terjaga dan risiko lonjakan inflasi dapat dihindari,” ujarnya.

Ia menegaskan, program MBG seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi manfaat gizi semata, tetapi juga dampaknya terhadap ekosistem ekonomi. Menurutnya, kehadiran MBG berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru yang, jika tidak dikelola dengan baik, dapat mengganggu keseimbangan pasar.

“Karena itu, kebijakan MBG harus dirancang komprehensif agar manfaat sosialnya berjalan seiring dengan stabilitas ekonomi,” pungkas Gunawan. (SK02)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *