oleh

Perang Iran-AS Dorong Harga CPO dan Karet Menguat, Pengamat: Petani Ikut Diuntungkan

-Highlight-54 Dilihat

Medan – Memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz tidak sepenuhnya membawa dampak negatif bagi perekonomian. Di tengah tekanan terhadap pasar keuangan dan pelemahan nilai tukar rupiah, perang justru menjadi sentimen positif bagi sejumlah komoditas ekspor Indonesia, khususnya minyak sawit mentah (CPO) dan karet.

Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin mengatakan, meningkatnya tensi geopolitik telah memberikan keuntungan bagi petani sawit dan karet, serta pelaku usaha di sektor hilir, karena mendorong kenaikan harga kedua komoditas tersebut di pasar global.

“Perang memang memicu koreksi di pasar saham dan menekan nilai tukar rupiah. Namun, bagi komoditas ekspor seperti CPO dan karet, kondisi ini justru menjadi berkah karena harga keduanya mengalami penguatan,” ujar Gunawan Benjamin, Kamis (9/7/2026).

Ia menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang mendorong kenaikan harga komoditas tersebut. Pertama, konflik Iran dan Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak kemudian ikut mengerek harga komoditas lain, terutama yang dapat menjadi substitusi minyak mentah.

Menurutnya, produk turunan kelapa sawit merupakan salah satu komoditas strategis yang mampu menggantikan sebagian kebutuhan minyak mentah dunia. Saat ini, harga CPO dunia naik dari sekitar US$1.090 per ton pada 2 Juli menjadi sekitar US$1.105 per ton.

Selain itu, konflik juga mendorong meningkatnya permintaan terhadap karet. Gunawan menyebut, setiap perang umumnya meningkatkan kebutuhan karet sehingga berdampak pada kenaikan harga.

“Saat sebelumnya Iran dan Amerika Serikat sempat mencapai gencatan senjata, harga karet dunia justru bergerak turun. Kini, ketika konflik kembali memanas, harga karet naik dari sekitar US$2,09 per kilogram pada 3 Juli menjadi sekitar US$2,17 per kilogram,” jelasnya.

Menurut Gunawan, kenaikan harga karet tidak hanya dipengaruhi oleh naiknya harga minyak mentah, tetapi juga karena meningkatnya kebutuhan karet secara langsung akibat konflik.

Ia juga menambahkan, perang memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global yang berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut membuat harga komoditas ekspor Indonesia menjadi lebih kompetitif dan berpotensi meningkatkan harga di tingkat petani.

Meski demikian, Gunawan mengingatkan bahwa secara keseluruhan perang tetap memberikan dampak negatif terhadap perekonomian.

“Perang tidak selamanya menjadi kabar buruk bagi perdagangan komoditas unggulan Indonesia. Namun, secara keseluruhan perang tetap akan memberikan dampak buruk terhadap kinerja ekonomi nasional,” pungkasnya. (SK03)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *