oleh

Rupiah Melemah Dekati 17.400/USD, Pengamat Ekonomi: Ini Kondisi Tidak Biasa, BI Tak Bisa Sendirian

-Highlight-44 Dilihat

Medan – Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat merupakan kondisi tidak biasa yang dipicu akumulasi sentimen global dan domestik.

Menurutnya, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75 persen berpotensi mendorong bank sentral lain untuk mengambil langkah serupa atau cenderung agresif (hawkish). Situasi ini diperparah dengan tekanan inflasi global yang masih tinggi serta ketegangan geopolitik, termasuk konflik Iran–AS yang belum menemukan titik terang.

“Akumulasi sentimen negatif tersebut telah menggiring rupiah melemah hingga mendekati level 17.400, atau berada di kisaran 17.375 per dolar AS,” ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, upaya Bank Indonesia (BI) dalam meredam gejolak rupiah melalui intervensi pasar memang dapat dilakukan, namun membutuhkan biaya besar dan berpotensi menggerus cadangan devisa.

Gunawan juga menilai, secara fundamental rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued. Artinya, nilai tukar rupiah seharusnya bisa lebih kuat dan berada di bawah Rp17.000 per dolar AS.

“Namun pembentukan harga rupiah juga sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pelaku pasar yang berkorelasi dengan kinerja fundamental ekonomi, terutama kondisi fiskal atau APBN,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah menghadapi dilema fiskal. Lonjakan harga minyak mentah dunia membuat anggaran negara terserap besar untuk subsidi energi, sementara pemerintah tetap berupaya menjaga harga BBM bersubsidi guna mempertahankan daya beli masyarakat.

Kondisi ini, lanjutnya, berpotensi memperlebar defisit fiskal. Jika harga minyak terus bertahan tinggi atau bahkan meningkat akibat konflik global, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan semakin berat.

“Yang paling dikhawatirkan adalah kinerja rupiah akan terus terpukul, sementara kebijakan subsidi BBM masih dipertahankan hingga akhir tahun,” katanya.

Gunawan menegaskan, dalam situasi seperti saat ini, BI tidak bisa bekerja sendiri untuk menstabilkan rupiah. Intervensi semata hanya akan memperlambat pelemahan dan berisiko menguras cadangan devisa.

“Harus ada kebijakan lain yang berjalan beriringan, terutama dari pemerintah, untuk menekan permintaan dolar AS di dalam negeri dan mengendalikan defisit neraca pembayaran,” tegasnya.

Ia menambahkan, sinergi kebijakan antara otoritas moneter dan fiskal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. (SK03)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *