oleh

Bencana Alam Picu Ketidakseimbangan Pasar, Inflasi Tinggi Mengancam 2026

-Kabar Daerah-114 Dilihat

Medan – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera pada akhir November lalu berpotensi memicu ketidakseimbangan pasar dan ancaman inflasi tinggi pada tahun 2026.

Hal tersebut disampaikan Gunawan, pengamat ekonomi, Jumat (26/12/2025).

Menurut Gunawan, bencana akibat tingginya curah hujan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah menciptakan kondisi disequilibrium pasar. Di satu sisi terjadi kelangkaan barang di wilayah konsumen, sementara di sisi lain muncul surplus di wilayah produsen akibat terganggunya distribusi.

“Hingga hari ini harga cabai merah di Sumatera Utara masih terbilang murah, sekitar Rp20 ribu per kilogram. Namun harga tersebut belum sepenuhnya memperhitungkan potensi produksi yang tertahan di wilayah Aceh,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, banyak petani mengeluhkan hasil panen cabai merah yang tidak dapat didistribusikan karena akses distribusi belum sepenuhnya pulih pascabencana.

Gunawan menilai terdapat beberapa persoalan serius yang berpotensi memicu gelombang inflasi tinggi pada 2026. Pertama, banyak petani mengalami kerugian karena tidak mampu memanen tanaman mereka akibat terputusnya akses distribusi. Kondisi tersebut memperburuk keuangan petani dan menghilangkan kemampuan mereka untuk kembali bercocok tanam.

Kedua, bencana memaksa petani di berbagai wilayah Sumatera Utara, seperti Batubara, Deli Serdang, Langkat, dan Serdang Bedagai, melakukan tanam ulang. Akibatnya, jadwal tanam dan panen mengalami kemunduran. Di sisi lain, petani harus menanggung kebutuhan modal yang besar, sementara curah hujan yang masih tinggi meningkatkan risiko gagal tanam.

Ketiga, tidak ada jaminan seluruh lahan pertanian terdampak bencana akan kembali ditanami komoditas serupa. Terdapat potensi hilangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan atau kondisi lahan yang sudah tidak memungkinkan untuk ditanami kembali. Hal ini berpeluang menekan produksi pangan pada tahun depan.

Keempat, perubahan jadwal tanam turut mengubah pola panen. Pasokan menjadi sulit diproyeksikan dan ketersediaan barang di masa depan menjadi tidak pasti, sehingga pengendalian inflasi menghadapi tantangan berat.

“Secara keseluruhan, ketidakseimbangan pasar ini diperkirakan terjadi hingga semester I tahun depan. Keseimbangan pasar paling cepat baru bisa terlihat dalam enam bulan mendatang,” jelasnya.

Gunawan juga mengingatkan adanya ancaman inflasi tinggi pada momen-momen besar seperti Ramadhan dan Idul Fitri. Sejumlah harga kebutuhan pokok, seperti cabai, beras, dan kebutuhan protein, berpotensi mengalami kenaikan, dengan cabai menjadi komoditas yang memiliki risiko lonjakan harga paling tinggi jika tidak diantisipasi sejak dini. (SK02)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *