oleh

Gunawan Benjamin: Eskalasi Timur Tengah Picu Pelemahan Rupiah dan IHSG

-Highlight-46 Dilihat

Medan – Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan tekanan di pasar saham domestik tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pasar global terhadap lonjakan inflasi energi.

Menurut Gunawan Benjamin, rupiah kembali tertekan hingga menembus level Rp17.650 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami pelemahan dan bergerak mendekati level psikologis 6.500 pada perdagangan awal pekan ini.

“Harga minyak mentah dunia yang kembali naik dan bertahan di atas 100 dolar AS per barel menjadi sentimen negatif utama di pasar keuangan global maupun domestik,” ujar Gunawan Benjamin, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, saat ini harga minyak mentah dunia jenis WTI diperdagangkan di kisaran 108 dolar AS per barel, sedangkan Brent berada di level 111 dolar AS per barel. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya tekanan inflasi global sehingga pelaku pasar cenderung mengambil langkah aman.

Mayoritas bursa saham dunia pada sesi perdagangan pagi turut bergerak di zona merah. IHSG sendiri dibuka melemah ke level 6.628 dan terus mengalami tekanan hingga mendekati level 6.500. Sementara itu, rupiah diperdagangkan melemah di kisaran Rp17.655 per dolar AS.

“Pasar keuangan domestik masih dibayangi sentimen negatif eksternal. Investor cenderung menahan diri karena risiko geopolitik yang semakin tinggi,” katanya.

Gunawan Benjamin menambahkan, eskalasi konflik di Timur Tengah justru menunjukkan peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Amerika Serikat kembali melontarkan ancaman terhadap Iran, sementara Iran juga tetap berada pada posisi yang berseberangan dengan AS.

“Negosiasi damai yang sebelumnya sempat digaungkan belum menunjukkan hasil nyata. Bahkan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah pada akhir pekan kemarin turut memperburuk kekhawatiran pasar,” jelasnya.

Selain itu, harga emas dunia juga mengalami tekanan dan diperdagangkan di kisaran 4.536 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,58 juta per gram. Menurut Gunawan, kondisi tersebut menunjukkan pasar global saat ini lebih fokus terhadap dinamika konflik geopolitik dibandingkan rilis data fundamental ekonomi.

“Ke depan, pergerakan pasar masih akan sangat dipengaruhi perkembangan perang dan stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz,” pungkasnya. (SC02)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *