Medan – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia di atas 100 dolar AS per barel, dinilai tidak hanya berdampak pada negara tersebut, tetapi juga berimbas hingga ke Indonesia, termasuk pada harga kebutuhan pokok masyarakat.
Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin, mengatakan negara-negara yang tidak menerapkan subsidi BBM akan lebih cepat menyesuaikan harga mengikuti pasar. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang hingga kini masih menahan harga BBM bersubsidi.
“Patut disyukuri harga BBM bersubsidi di dalam negeri belum mengalami kenaikan. Namun masyarakat perlu memahami bahwa kenaikan BBM di negara lain tetap bisa berdampak ke sini, terutama melalui kenaikan harga barang impor,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Menurut Gunawan, kenaikan harga BBM di negara produsen akan meningkatkan biaya produksi dan distribusi, sehingga harga jual komoditas yang diekspor ke Indonesia ikut terdorong naik. Dampaknya kemudian terasa pada berbagai kebutuhan dapur masyarakat.
Ia mencontohkan komoditas daging sapi yang sebagian pasokannya berasal dari luar negeri, seperti Australia. Berdasarkan informasi dari peternak dan pedagang, harga sapi bakalan mengalami kenaikan hingga Rp71 ribu per kilogram sampai tiba di wilayah Sumatera Utara.
“Di sisi lain, masih ada peternak yang menjual sapi hidup di kisaran Rp58 ribu per kilogram. Artinya, peternak tersebut menanggung beban kenaikan harga dan berpotensi merugi,” jelasnya.
Padahal, sebelum Idulfitri lalu, harga sapi bakalan di tingkat peternak masih berada di kisaran Rp55 ribu per kilogram. Dengan kenaikan tersebut, Gunawan memperkirakan harga daging sapi di rumah potong hewan (RPH) dapat naik dari sekitar Rp120 ribu menjadi Rp140 ribu per kilogram.
Meski demikian, kenaikan harga di tingkat konsumen belum tentu langsung terjadi. Ia menilai pedagang masih berhati-hati untuk menaikkan harga karena daya beli masyarakat yang sensitif terhadap harga daging sapi.
“Secara hitungan, harga di konsumen seharusnya bisa naik sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Tapi pedagang belum tentu berani menaikkan karena permintaan sangat dipengaruhi daya beli,” katanya.
Gunawan menegaskan, fenomena ini menjadi bukti bahwa kenaikan harga minyak dunia yang mendorong kenaikan BBM di negara lain, turut memicu kenaikan harga di sepanjang rantai pasok dalam negeri.
Ia menambahkan, dampak serupa tidak hanya terjadi pada daging sapi, tetapi juga pada berbagai komoditas lain seperti kacang-kacangan, bahan baku pakan, hingga produk pangan jadi yang sebagian atau seluruhnya masih bergantung pada impor.
“Ini yang perlu diwaspadai, karena pada akhirnya tekanan harga tersebut bisa sampai ke dapur masyarakat,” pungkasnya. (SK03)





















Komentar