Medan – Dugaan keterlibatan Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) dalam operasi tangkap tangan (OTT) proyek jalan di Sumut menuai sorotan dari berbagai kalangan. Publik menilai kasus ini mencoreng dunia pendidikan dan kembali mengingatkan pentingnya integritas seorang pemimpin.
Pengamat Konstruksi Erikson Lumbantobing, menyebut bahwa lingkungan pendidikan, keluarga, hingga tempat kerja adalah lingkaran pertama yang membentuk manusia menjadi bagian dari masyarakat dan negara. Karena itu, pemimpin di setiap lingkup, termasuk rektor, seharusnya menjadi teladan.
“Kalau dosen, guru, orang tua, pemimpin malah memberi contoh buruk dengan kesombongan akan kekuasaan dan kekayaan, maka jelas mereka tidak pantas disebut pemimpin. Begitu juga rektor USU bila memang benar terlibat kasus OTT, ia bukanlah contoh yang baik meskipun memegang jabatan tinggi,” kata Erikson, Selasa (9/9/2025).
Ia menegaskan, Sumut membutuhkan pemimpin yang berbudi pekerti luhur, berakhlak, jujur, dan amanah. Menurutnya, sudah banyak pejabat di Sumut, mulai dari gubernur, wali kota, bupati, hingga kepala dinas yang terseret kasus hukum. “Hasil dari pemimpin yang buruk ini adalah maraknya kriminalitas, begal, narkoba, dan penyakit masyarakat lainnya,” tambahnya.
Senada, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Kontraktor Seluruh Indonesia (Gapeksindo) Sumatera Utara (Sumut), Jimmy Simbolon, juga menyampaikan kekecewaannya. Menurutnya, masyarakat Medan merasa terpukul dengan kasus yang menjerat tokoh pendidikan sebesar rektor USU.
“Sebagai orang Medan, tentu kita kecewa. Kita ingin Sumut maju, tapi kalau moral pemimpinnya tercoreng, ke mana arah pembangunan kota Medan ini? Mari kita tunggu proses hukum, tetap kritis, dan berharap ke depan pemilihan rektor USU harus mengedepankan integritas,” ujar Jimmy. (SK02)




















Komentar