Medan – Harga daging ayam di Sumatera Utara terus mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir meskipun biaya produksi peternak, terutama harga pakan, justru menunjukkan tren kenaikan. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat menjelang tahun ajaran baru.
Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, mengatakan harga daging ayam sejak April 2026 terus bergerak turun. Padahal, berdasarkan data yang dihimpunnya, pasokan ayam potong tidak mengalami lonjakan yang signifikan.
“Di Deli Serdang yang merupakan salah satu sentra peternakan ayam potong terbesar di Sumatera Utara, pasokan ayam pada April justru turun sekitar 17 persen secara bulanan. Namun harga daging ayam di Pasar Tanjung Morawa yang pada awal April berada di kisaran Rp39.000 per kilogram turun menjadi Rp34.000 per kilogram di akhir bulan,” ujarnya.
Penurunan harga berlanjut pada Mei hingga menyentuh Rp32.000 per kilogram. Sementara pada Juni, meski pasokan ayam potong naik sekitar 18 persen dibandingkan April, jumlahnya tidak jauh berbeda dengan periode sebelumnya. Namun harga daging ayam kembali turun hingga berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.
Menurut Gunawan, terdapat beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab terkoreksinya harga daging ayam saat ini. Faktor pertama adalah melemahnya permintaan masyarakat menjelang kenaikan kelas dan tahun ajaran baru.
“Pedagang maupun produsen mengakui penurunan belanja masyarakat tahun ini lebih terasa dibandingkan tahun sebelumnya. Banyak ibu rumah tangga yang memilih berhemat untuk mempersiapkan kebutuhan sekolah anak-anak,” katanya.
Faktor kedua adalah potensi melemahnya serapan ayam potong oleh dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selama ini, program tersebut menjadi salah satu pendorong meningkatnya permintaan ayam potong.
Gunawan memperkirakan produksi ayam potong meningkat antara 17 hingga 25 persen sejak program MBG berjalan. Kehadiran program itu juga membuat harga ayam yang sebelumnya berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram pada 2024 mampu bertahan pada level yang lebih tinggi, bahkan sempat menembus Rp40.000 per kilogram pada 2026.
Selain itu, peningkatan pasokan ayam potong juga ikut memengaruhi harga. Namun menurutnya, kenaikan pasokan tersebut seharusnya tidak menyebabkan penurunan harga yang terlalu tajam seperti yang terjadi saat ini.
“Pemerintah perlu fokus membenahi daya beli masyarakat agar harga ayam tidak terus tertekan dan merugikan peternak,” ujarnya.
Di sisi lain, kondisi peternak semakin terjepit karena harga ayam hidup di tingkat peternak hanya berkisar Rp17.000 per kilogram di wilayah Aceh dan sekitar Rp19.000 per kilogram di Sumatera Utara. Pada saat yang sama, harga pakan terus mengalami kenaikan.
“Saya mencatat harga pakan sudah naik setidaknya tiga kali, atau sekitar Rp600 hingga Rp800 per kilogram, sejak konflik Iran dan Amerika Serikat memanas. Ini tentu menambah beban biaya produksi peternak,” kata Gunawan.
Ia mengingatkan bahwa jika kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut, peternak dengan modal terbatas berpotensi tersingkir dari usaha peternakan karena tidak mampu menanggung biaya produksi yang terus meningkat.
“Jika daya beli masyarakat tidak segera pulih, maka mekanisme pasar akan menyeleksi peternak secara alami. Sebagian berpotensi gulung tikar hingga akhirnya pasokan berkurang dan harga kembali naik. Akan tetapi, apabila daya beli masyarakat dapat dipulihkan, maka konsumen maupun peternak sama-sama bisa bertahan,” pungkasnya.
Menurut Gunawan, kondisi saat ini menjadi ironi tersendiri. Di tengah harga daging ayam yang lebih murah, sebagian masyarakat justru mengurangi konsumsi karena harus mengalokasikan anggaran rumah tangga untuk kebutuhan pendidikan anak menjelang tahun ajaran baru. (SK02)





















Komentar