oleh

Trainer SROI ISO 26000 Mardi Sahendra Edukasi CSR dan Sustainability kepada Akademisi di Medan

-Profil-8 Dilihat

Medan – Trainer Social Return on Investment (SROI) ISO 26000, Mardi Sahendra, mengedukasi kalangan akademisi, pimpinan yayasan pendidikan, hingga aktivis non-governmental organization (NGO) mengenai pentingnya pengelolaan corporate social responsibility (CSR), ESG, dan sustainability dalam kegiatan usaha.

Dalam kegiatan Class Bang Mardi di Medan, Selasa (19/5), Mardi Sahendra menyoroti kondisi ekonomi nasional yang sempat terguncang akibat penguatan dolar AS terhadap rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Menurutnya, kondisi tersebut dipicu berbagai faktor, termasuk peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kerentanan struktural pasar keuangan Indonesia.

“Hal itu didahului warning MSCI yang menyoroti kerentanan struktural, termasuk masalah free-float, transparansi kepemilikan, dan praktik manipulasi pasar melalui aksi goreng saham. Dampaknya ekonomi nasional terganggu,” ujarnya.

Namun demikian, ia menilai sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu penopang utama yang membantu menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Itu sebabnya perhatian dan proteksi terhadap UMKM harus tetap menjadi prioritas,” tegasnya.

Class Bang Mardi yang berstandar ISO 26000 tersebut untuk pertama kalinya digelar di luar Pulau Jawa. Kegiatan ini bertujuan mengedukasi perusahaan dan para aktivis mengenai penyaluran CSR yang tepat sasaran dan sesuai standar internasional.

Mardi yang juga pendiri dan pengelola PT Sosial Lingkungan Hijau menjelaskan, ISO 26000 merupakan pedoman bagi organisasi dan perusahaan dalam menerapkan tanggung jawab sosial.

“ISO 26000 berfungsi sebagai pedoman atau panduan, bukan sertifikasi, bagi organisasi dan perusahaan dalam menjalankan CSR,” katanya.

Ia menambahkan, CSR yang dijalankan secara tepat dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat kepercayaan publik maupun investor terhadap perusahaan.

Menurut Mardi, kondisi ekonomi global saat ini juga dipengaruhi oleh capital outflow akibat tingginya suku bunga The Fed serta ketidakstabilan ekonomi dunia yang memicu aksi jual investor asing di pasar modal Indonesia.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kegiatan Class Bang Mardi tidak secara khusus membahas persoalan ekonomi makro, melainkan fokus pada edukasi pengelolaan CSR secara bijaksana dan tepat sasaran.

“SLH sudah berpengalaman menjalankan program CSR perusahaan, mulai dari perusahaan multinasional hingga global yang ada di Indonesia, termasuk perusahaan lokal yang telah go international,” ujarnya.

Pria asal Bengkulu yang telah lebih dari 15 tahun berkecimpung dalam pengelolaan CSR perusahaan itu menilai, pelaksanaan CSR seharusnya berorientasi pada kepentingan masyarakat, bukan semata kebutuhan perusahaan atau kepentingan pemangku kebijakan.

Karena itu, menurutnya, perusahaan perlu memahami konsep ESG (environmental, social, governance), CSR, dan sustainability sebagai bagian dari pelayanan publik dan tata kelola perusahaan modern.

Ia menjelaskan, aspek environmental berkaitan dengan cara perusahaan mengelola dampak lingkungan, seperti efisiensi energi, pengurangan emisi karbon, dan pengelolaan limbah.

Sementara aspek social menyangkut perlakuan perusahaan terhadap karyawan, pelanggan, dan masyarakat, termasuk isu hak asasi manusia, keberagaman, serta keterlibatan komunitas.

Adapun governance berkaitan dengan tata kelola perusahaan yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan integritas dalam pengambilan keputusan.

Mardi juga menegaskan bahwa CSR yang baik harus diwujudkan melalui program nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat, seperti pemberian beasiswa pendidikan, penghijauan lingkungan, hingga layanan kesehatan gratis.

“CSR terbaik adalah yang berjalan beriringan dengan aktivitas bisnis perusahaan pemberi CSR,” katanya.

Terkait sustainability, ia menjelaskan konsep tersebut menitikberatkan pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial.

“Dengan kegiatan bisnis yang tidak merusak peluang generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya, maka kepercayaan publik meningkat dan investor akan datang. Perusahaan pun menjadi semakin sehat,” ujarnya.

Ia pun menutup pemaparannya dengan menjelaskan konsep Triple Bottom Line yang menekankan keseimbangan antara people, planet, dan profit demi keberlanjutan perusahaan maupun masyarakat. (SK06)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *