Berastagi – Esa Sentosa Abadi Indonesia (ESA Glass) memroduksi ragam jenis kaca dengan kualitas internasional. Satu di antaranya adalah kaca tempered yan gkualitasnya lebih kuat dari kaca antipeluru untuk kendaraan VVIP. Selain itu, perusahaan produsen dan perintis pemroses kaca terbesar di Sumatera itu memiliki TKDN hitungan 70 persen. Soal TKDN, ditekankan kualitasnya dalam maksud mendukung pemerintah membuka lapangan kerja lebih luas. Hingga 2025, perusahaan produsen dan perintis pemroses kaca terbesar di Sumatera itu memiliki TKDN hitungan 70 persen. “ESA Glass menjamin kualitas dengan mengeksploitasi mineral unggul yang kaya di Nusantara. Parameternya tentu kualitas yang tiap hari harus lebih baik dari kemarin,” kata Direktur Marketing ESA Glass, Dewi Gandhi, dalam gerelal studi di Universitas Quality Berastagi serta puluhan calon arsitektur, Selasa (25/11).
Dalam paparan bertema Future Trending Glass, Dewi Gandhi mengajak warga Indonesia untuk mengenal dan memahami kekayaan Nusantara khususnya dalam penggunaan kaca dalam kehidupan. Itulah alasannya mengapa menindaklanjuti penandatanganan nota kesepahaman (MoU), perjanjian kerja sama (MoA), dan implementasi kerja sama (IA) dengan sejumlah pihak termasuk Universitas Quality Berastagi.
Sebelum di kota sejuk, Dewi Gandhi tur Sumatera dan terakhir di Aula Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry di Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Bandaaceh pada Rabu, 1 Oktober 2025. “Parameter kualitas bagi ESA Glass adalah teknologi terbarukan tapi juga eksplor bahan baku yang baik hingga perpaduan itu meningkatkan mutu berbagai jenis produk kaca. “Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap para cedikiawan muda paham mengenai produk-produk kaca. Karna semakin berkembangnya teknologi dan live style, penggunaan kaca berbeda dan disesuaikan dengan kondisi. Misalnya kaca tempered, kaca laminated, serta kapan masing-masing jenis kaca digunakan. Hal ini karena di kampus mereka banyak berfokus pada teori, sementara perkembangan industri berlangsung sangat cepat,” tegas generasi kedua pendiri dan pengembang ESA Glass tersebut.
Ia mempraktikkan jenis kaca dan kualitas sesuai perkembangan zaman, kemajuan teknologi serta pengalaman sesuai kehidupan publik. “Ingat lho… kualitas kaca produk Indonesia, setara dengan di luar negeri. ESA Glass terus berinovasi agar kreativitasnya sejajar dengan peroduk luar,” tambahnya. “Sekarang ESA Glass fokus pada energy saving (penghematan energi) dnegan penggunaan kaca.”
Ia menelisik produk listrik di Sumatera khususnya Sumatera Utara. “Dengan menggunakan kaca yang berteknologi energy saving, pendingin ruangan tidak perlu bekerja ekstra. Meski suhu di luar panas, sistem pendingin tetap stabil dan tidak mengonsumsi energi berlebihan,” paparnya sambil mengurai cara kerja AC yang menyesuaikan suhu ruangan sesuai setelan. “Jika panas sudah ditekan oleh teknologi kaca, energi dapat dihemat. Untuk bangunan berkaca banyak, pencahayaan alami juga lebih maksimal sehingga pemakaian lampu di siang hari menjadi lebih sedikit,” tambahnya.
Perkembangan bangunan pencakar langit di masna saja, termasuk di Sumatera memakai kaca untuk keperluan estetika dan konsep menyatu dengan alam. “ESA Glass dengan teknologi kaca saat ini, baik dari segi material maupun proses produksinya, sudah mampu meminimalkan panas yang masuk, sehingga tetap nyaman digunakan,” pastinya sambil menyebut gedung rumah sakit terkemuka di Medan yang menggunakan produk perusahaannya serta komponen ESA Glass ada di Jembatan Kaca Gundaling Sky Hill. “Satu rumah sakit terkemuka di Medan, gedungnya mentereng dengan kaca berteknologi energy saving. Silakan nikmati dan telisik seperti pintu kaca tempered. Jika ada logo ESA, tentu kualitasnya beda dengan yang lain.”
Megenai TKDN, lanjutnya, Dewi Gandhi mengatakan memiliki tanggung jawab sosial untuk membuka lapangan kerja. Bahan kaca ESA Glass dari mateiral dalam negeri, otomatis membuka lapangan kerja baru. “ESA Glass terbuka. Bahan kaca kan silika, natrium karbonat, kalsium karbonat, alumina atau magnesium dan senyawa lainnya. Itu kisaran 70 persen di Bu eksplor dari Indonesia. Proses eksplor itu otomatis memberi lapangan kerja baru bagi warga Indonesia,” simpulnya.
Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Quality Ir Mei Brilian Harefa MT berterima kasih karena ESA Glass membuka wawasan generasi muda dan menambah pe-de Gen-Z Indonesia. “Desain yang dikerjakan arsitek memang berhubungan langsung dengan kaca. Apalagi di kehidupan modern. “Banyak yang mulai ngeh, ternyata jenis-jenis kaca yang diproduksi Esa Glass sangat beragam dan memiliki fungsi berbeda. Jika arsitek tak tahu, tentu rancangannya jadi usang bahkan tak sesuai dengan perkembangan zaman,” tambahnya.
Paparan Dewi Gandhi mendapat dari sejumlah calon arsitek seperti Seva Ginting, Siti Isnaini dan Darma. Bahkan Jonathan Sitepu ‘menantang’ memecahkan kaca produk ESA Glass dengan martil yang hasilnya pecah tapi tak berserak hingga tak dapat ditembus. “Ini kaca jenis tempered yang kerap dijadikan bahan kaca anti peluru. Pecah tapi tak berserak hingga meredam kecepatan peluru dan tak masuk,” simpul Dewi Gandhi. (SK06)




















Komentar