oleh

Erickson Tobing Ajak Anak Muda Sumut Hidupkan Kembali Budaya ‘Jaga Standing’

-Profil-182 Dilihat

Medan – Istilah “Jaga Standing” pernah begitu populer di kalangan anak Medan tempo dulu. Kata-kata itu bukan sekadar ungkapan, melainkan pesan moral untuk menjaga harga diri dengan tidak melakukan hal-hal yang memalukan. Kini, ungkapan itu kembali digaungkan oleh pemerhati dunia konstruksi Sumatera Utara, Erickson Lumban Tobing.

Dalam sebuah perbincangan bersama anak-anak muda yang tergabung dalam Era Gapeksindo Muda, Erickson menekankan pentingnya menghidupkan kembali budaya “Jaga Standing”, terutama di tengah tantangan moral yang dihadapi generasi muda Sumatera Utara saat ini.

“Anak-anak muda seharusnya masih memiliki idealisme yang baik, idealisme yang tinggi. Mau jadi apa Sumut lima sampai sepuluh tahun ke depan kalau anak-anak mudanya sudah rusak moralnya?” tegas Erickson kepada suarakonstruksi.co.id.

Menurutnya, fakta bahwa Sumut kini dipimpin oleh tokoh muda seperti Muhammad Bobby Afif Nasution (34) sebagai Gubernur Sumut, hingga pejabat struktural seperti Topan Ginting (42) sebagai Kadis PUPR, seharusnya menjadi peluang untuk membawa semangat baru dalam tata kelola pemerintahan. Namun, Erickson mengingatkan bahwa kepemimpinan anak muda hanya akan berhasil jika dibarengi integritas, moral, dan kebijakan yang dewasa.

“Kalau lingkaran sekitarnya hanya mementingkan kepentingan pribadi, hasilnya bisa kita lihat. OTT KPK terhadap Kadis PUPR Sumut jadi contoh nyata. Begitu juga proyek-proyek peninggalan Bobby Nasution saat jadi Wali Kota Medan, seperti Lapangan Merdeka dan Stadion Teladan, yang nilainya triliunan tapi hasilnya masih jadi sorotan publik,” jelas Erickson yang juga pernah menjabat Ketua Umum Gapeksindo Sumut beberapa periode.

Generasi Muda Harus Berani Berubah

Senada dengan itu, Sekretaris Gapeksindo Sumut, Steve Excel Korua Tobing, menyampaikan apresiasi atas perhatian Erickson Tobing terhadap moralitas anak muda. Menurutnya, generasi muda memang menjadi tulang punggung arah masa depan bangsa.

“Kalau moral kami anak muda hancur hari ini, maka 5–10 tahun ke depan kita hanya akan mewarisi krisis yang lebih parah. Tapi kami di Era Gapeksindo Muda percaya masih banyak anak-anak muda yang jujur, berani bersuara, dan tetap menjaga integritas di tengah tantangan besar,” ujar Excel, sapaan akrabnya.

Ia menegaskan bahwa Era Gapeksindo Muda tidak ingin terjebak menjadi “anak muda sok tua” atau sebaliknya “anak muda yang apatis dan dungu”. Yang dibutuhkan adalah anak muda yang kuat secara nilai, berani melawan budaya salah, dan menjaga kesadaran moral.

“Kasus OTT pejabat tinggi di Sumut baru-baru ini adalah tamparan keras bagi semua. Itu bukan hanya soal hukum, tapi juga soal moral. Anak muda harus punya rasa malu, karena dari malu lahir tanggung jawab dan kesadaran diri,” tutup Excel.

Dengan seruan “Jaga Standing”, Erickson dan Era Gapeksindo Muda berharap anak-anak muda Sumut bisa kembali menghidupkan budaya malu dan integritas, sehingga tidak mudah terjerumus pada perilaku memalukan yang merusak masa depan daerah maupun bangsa. (SK03)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *