oleh

“Ad Altiora” RP Dani Manik dan Febry Silaban Viral di Media Sosial

-Highlight-212 Dilihat

Pematangsiantar – Perayaan Yubileum 75 Tahun Seminari Menengah Christus Sacerdos (SMCS) Pematangsiantar, Sabtu (6/9), ditandai dengan peluncuran buku “Ad Altiora: Peziarah 75 Tahun SMCS Pematangsiantar 1950–2025”. Buku karya Febry Silaban SFil ME itu memuat kisah perjalanan sedikitnya 6.500 pribadi yang pernah menjadi bagian dari SMCS, termasuk tujuh uskup, 236 siswa, tujuh imam pembimbing, dua frater, 18 guru dan pegawai sekolah, serta 12 karyawan rumah dan dapur.

Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah RP Dani Manik. Imam Katolik yang akrab disapa “raja medsos” itu viral di TikTok dan Instagram. Akunnya di TikTok hampir menembus 200 ribu pengikut, sementara Instagramnya diikuti sekitar 40 ribu akun. Dalam setiap kontennya, ia selalu tampil dengan jubah imam dan membagikan pesan kebaikan, cinta kasih, serta ajakan berdonasi, termasuk untuk pembangunan rumah ibadah lintas agama.

Pada acara puncak Yubileum, kehadiran RP Dani Manik menjadi magnet bagi generasi muda, khususnya Gen Z. “Konten itu mengimbau kebajikan pada sesama sesuai ajaran Yesus Kristus,” ujar RP Dani yang dikenal dengan gaya rambut gondrongnya.

Sementara itu, Febry Silaban—jurnalis senior yang berkarier di perusahaan migas multinasional—menyebut buku ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan juga cermin identitas, harapan, dan pengingat bahwa panggilan lahir dari proses panjang, doa, serta dukungan banyak pihak.

Alumni SMCS, Althur Simanullang dan Silvester Gultom, juga menegaskan buku ini menghadirkan refleksi perjalanan iman. “SMCS berisi doa, tawa, dan nyanyian yang tak lekang dimakan waktu. Di situ benih panggilan ditabur dan tumbuh serta mengalirkan rahmat umat,” kata Althur.

Rektor SMCS, Pastor John Rufinus Saragih OFMCap, menambahkan bahwa “Ad Altiora” menghadirkan refleksi relevan bagi zaman modern. “Panggilan suci menuntut ketekunan, kesabaran, kerja batin, dan daya juang luar biasa untuk terus bertumbuh,” ujarnya.

Ia menekankan, SMCS membentuk pribadi yang rendah hati, tekun dalam doa, dan tangguh dalam studi. “Kehendak seminaris dibakar oleh cinta kepada Tuhan setelah mengalami tatapan belas kasih-Nya yang menjadi kekuatan penembus batas,” tambah Pastor John. (SK06)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *