oleh

BNPB Catat 2.186 Kejadian Bencana hingga 21 Oktober 2026

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.186 kejadian bencana di Indonesia sejak 1 Januari hingga 21 Oktober 2026. Pada Rabu (21/10), terdapat tambahan tujuh kejadian bencana, terdiri atas enam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta satu banjir.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D., mengatakan lebih dari 99 persen kejadian bencana sepanjang tahun ini berkaitan dengan faktor hidrometeorologi, baik basah maupun kering.

Penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah. Kebakaran di kawasan pegunungan dan potensi dampak Siklon Tropis Champi juga menjadi perhatian BNPB.

BNPB memprioritaskan penanganan karhutla di enam provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau.

Dari total area sasaran penanganan seluas lebih dari 983 hektare, lebih dari 502 hektare telah dipadamkan, sedangkan lebih dari 481 hektare masih dalam penanganan.

Kalimantan Tengah mencatat area yang belum padam paling luas, yakni lebih dari 321 hektare, disusul Sumatera Selatan dengan lebih dari 84 hektare.

Di luar enam provinsi prioritas, karhutla tercatat dengan luas lebih dari 1.044 hektare. Sebanyak 44 hektare telah dipadamkan, sedangkan sekitar 1.000 hektare masih belum padam. Kebakaran tersebut tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Kalimantan Timur hingga Maluku Utara.

Untuk penanganan karhutla, sebanyak 71.878 personel dikerahkan di enam provinsi prioritas, termasuk tambahan lebih dari 11 ribu personel pada Rabu (21/10), terutama di Kalimantan Tengah.

Selain pengerahan personel dan peralatan darat, dukungan udara juga ditambah. Armada helikopter untuk pengeboman air (water bombing) dan patroli meningkat dari 49 menjadi 51 unit. Armada tersebut juga digunakan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC).

Pada Rabu (21/10), pelaksanaan OMC meliputi Kalimantan Barat sebanyak satu sorti dengan 1.000 kilogram garam, Kalimantan Tengah sebanyak enam sorti dengan 3.900 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam, serta Sumatera Selatan sebanyak tiga sorti dengan 1.600 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam.

Lebih dari 160 Pendaki Dievakuasi dari Gunung Sumbing

Kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Sumbing, tepatnya di Petak 29 RPH Klesemen, BKPH Wonosobo, KPH Kedu Utara, jalur pendakian Gajah Mungkur, Desa Lamuk, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, pada Senin (19/10).

Kebakaran dilaporkan mencakup wilayah Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Kajoran, dan sekitarnya. Lebih dari 160 pendaki telah dievakuasi. Luas area terbakar diperkirakan mencapai 140 hektare yang tersebar di 14 titik api.

Pendataan masih berlangsung dan akan diperbarui sesuai perkembangan di lapangan. Jalur pendakian dan wisata Gunung Sumbing juga ditutup sementara.

Selain di Gunung Sumbing, upaya pemadaman di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah dilakukan sebanyak 13 kali, sedangkan di wilayah Kawi sebanyak 16 kali.

Dalam penanganan karhutla di Gunung Bromo, BNPB menyampaikan belasungkawa atas wafatnya lima relawan yang bertugas, yaitu Sukaris, Hendra Roni Wagiyanata, Sefriel Ardiansyah, Wisnu Yudapratama, dan Munawi.

BNPB menyampaikan penghormatan atas pengabdian para relawan serta duka cita mendalam kepada keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.

Siklon Tropis Champi Jadi Perhatian

Di tengah penanganan karhutla, perkembangan musim juga menjadi perhatian untuk mengantisipasi potensi bencana berikutnya.

Berdasarkan prakiraan yang dilaporkan, awal musim hujan diprediksi terjadi pada dasarian kedua Oktober di Provinsi Riau. Di provinsi lainnya, awal musim hujan diperkirakan berlangsung pada dasarian kedua dan ketiga Oktober, sedangkan Kalimantan Selatan diprakirakan memasuki musim hujan pada dasarian pertama November.

Berdasarkan informasi BMKG, Siklon Tropis Champi berada di bagian utara Indonesia dan berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi perairan Indonesia.

Dalam 24 jam hingga 22 Oktober 2026 pukul 07.00 WIB, dampak tersebut berpotensi dirasakan di Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Maluku, hingga Papua Barat Daya. Kondisi ini memungkinkan terjadinya cuaca ekstrem dan peningkatan dinamika gelombang laut di sejumlah wilayah, seperti perairan Kepulauan Talaud, perairan utara Papua Barat Daya, Laut Maluku, dan Samudra Pasifik.

BNPB mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi cuaca dari BMKG, BNPB, dan BPBD serta mengenali wilayah rawan banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gelombang tinggi.

Masyarakat juga diminta menyiapkan kebutuhan darurat, menjaga saluran drainase agar tidak tersumbat, serta meningkatkan kewaspadaan ketika hujan berlangsung lama. Warga di wilayah rawan bencana diminta mengikuti arahan evakuasi apabila kondisi membahayakan.

Warga pesisir dan nelayan juga diimbau memantau informasi gelombang tinggi serta tidak memaksakan diri melaut apabila kondisi perairan tidak aman.

Verifikasi Rumah Rusak Pascagempa NTT Selesai

Selain menangani bencana yang masih berlangsung dan mengantisipasi ancaman cuaca, BNPB juga mendukung pemulihan wilayah terdampak bencana sebelumnya.

Verifikasi rumah rusak pascagempa di Nusa Tenggara Timur telah selesai, dengan hasil 5.964 unit rumah rusak berat, 15.346 unit rusak sedang, dan 30.423 unit rusak ringan.

Berdasarkan hasil tersebut, pemerintah daerah diharapkan menetapkan surat keputusan calon penerima bantuan stimulan secara bertahap serta mengajukan usulan bantuan dengan melengkapi dokumen persyaratan untuk rumah rusak ringan, sedang, dan berat.

BNPB juga mendorong pemerintah kabupaten menyusun kajian kebutuhan pascabencana (Jitupasna) dan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana (R3P) secara paralel. Penyusunan tersebut perlu memanfaatkan hasil verifikasi dan validasi rumah rusak serta dilengkapi data kerusakan pada sektor lainnya sebagai dasar perencanaan pemulihan.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perkembangan bencana, melakukan langkah pencegahan sesuai potensi ancaman di wilayah masing-masing, serta mengikuti arahan pihak berwenang. Informasi kebencanaan dapat diakses melalui kanal resmi BNPB, BPBD, BMKG, dan instansi terkait. (SK03)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *