Medan – Kanker ovarium di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 15.000 kasus. Penyakit ini menempati peringkat ke-10 kanker terbanyak di dunia dan menjadi kanker dengan tingkat kematian tertinggi ketiga pada perempuan.
Sebagian besar penderita kanker ovarium datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut. Karena itu, deteksi dini dinilai sangat penting, terlebih gejala kanker ovarium cenderung tidak spesifik dan kerap menyerupai penyakit ringan lainnya.
Kanker ovarium tumbuh pada ovarium atau indung telur, organ reproduksi wanita yang memproduksi sel telur dan hormon reproduksi. Organ ini berada di bagian dalam panggul sehingga sulit terdeteksi tanpa pemeriksaan medis seperti USG.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi subspesialis onkologi, dr Dwi Faradina MKed(OG), Subsp Onk, dari Columbia Asia Hospital Medan menjelaskan terdapat sejumlah faktor risiko kanker ovarium, di antaranya riwayat kista ovarium, faktor keturunan kanker ovarium atau kanker payudara, pertambahan usia, mutasi genetik, gaya hidup tidak sehat, serta jumlah anak yang sedikit atau tidak memiliki anak sama sekali.
Menurutnya, gejala kanker ovarium sering disalahartikan sebagai gangguan lambung atau masuk angin. Ada empat gejala utama yang perlu diwaspadai, yakni perut sering kembung, nyeri perut atau panggul, cepat kenyang atau penurunan nafsu makan, serta sering buang air kecil.
“Jika sering mengalami empat gejala ini dan memiliki faktor risiko tersebut, harus segera diwaspadai. Jangan dianggap sekadar kembung biasa. Deteksi dini sangat penting sebelum kanker berkembang ke stadium lanjut,” ujar dr Dwi kepada wartawan, Selasa (26/5).
Ia menjelaskan, kanker ovarium berbeda dengan kanker serviks meski sama-sama menyerang organ reproduksi wanita. Perbedaan utamanya terletak pada lokasi organ, penyebab, metode deteksi, dan pencegahannya.
Kanker serviks tumbuh di leher rahim dan erat kaitannya dengan infeksi virus HPV (Human Papillomavirus) yang umumnya ditularkan melalui kontak seksual. Gejala kanker serviks lebih khas, seperti perdarahan di luar masa haid, keputihan abnormal, hingga nyeri saat berhubungan intim.
Selain itu, kanker serviks dapat dideteksi sejak dini melalui skrining seperti pap smear atau tes HPV. “Namun untuk kanker ovarium tidak ada istilah pap smear,” jelasnya.
Sementara itu, penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti dan hingga kini belum tersedia metode skrining standar yang efektif untuk mendeteksinya secara dini. Faktor risiko terbesar kanker ovarium meliputi mutasi genetik, riwayat keluarga, dan usia.
Menurut dr Dwi, keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kanker ovarium.
“Biasanya pasien datang sudah dalam kondisi stadium lanjut, perut membesar dan benjolan sudah terasa. Padahal jika terdeteksi lebih dini, peluang keberhasilan penanganan jauh lebih optimal,” katanya.
Ia menambahkan, penanganan kanker ovarium stadium lanjut memerlukan pendekatan multimodalitas, mulai dari operasi pengangkatan massa kanker, kemoterapi, hingga radioterapi jika diperlukan.
Direktur Columbia Asia Hospital Medan, dr Beni Satria MKes, SH, MH, FISQua, mengatakan pihak rumah sakit menempatkan aspek kemanusiaan sebagai prioritas utama dalam pelayanan pasien kanker.
“Kami memahami bahwa perjalanan melawan kanker bukan hal mudah. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan layanan humanis dengan dukungan teknologi medis terkini, sekaligus memberikan dukungan moral dan emosional bagi pasien selama proses penyembuhan,” ujarnya.
Ia menambahkan, rumah sakit tersebut telah menghadirkan layanan kemoterapi yang memungkinkan penanganan kanker dilakukan secara lebih komprehensif dan berkelanjutan oleh tim onkologi berpengalaman.
Selain itu, pihak rumah sakit juga menyediakan layanan skrining kanker ovarium sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini.
“Melakukan skrining rutin adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga. Kami mengajak seluruh perempuan untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak ragu memeriksakan kesehatan secara berkala,” tutupnya. (SK03)





















Komentar