oleh

Rupiah Melemah Dekati 16.900, IHSG dan Emas Menguat di Zona Hijau

-Highlight-70 Dilihat

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali melemah mendekati level 16.900 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup menguat dan bertahan di zona hijau pada perdagangan hari Asia Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin menilai pergerakan pasar mencerminkan tarik-menarik sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat.

IHSG sepanjang sesi perdagangan bergerak dalam rentang yang cukup lebar, yakni di kisaran 8.841 hingga 8.956. Pada sesi kedua, indeks sempat tertekan oleh aksi jual, namun berbalik menguat tajam menjelang penutupan perdagangan. Penguatan IHSG terjadi seiring membaiknya kinerja mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

“Penguatan IHSG di menit-menit akhir perdagangan menunjukkan masih adanya minat beli investor, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar, meski tekanan global belum sepenuhnya mereda,” ujar Gunawan Benjamin, Selasa (13/1/2026).

Sejumlah emiten tercatat menjadi penopang utama penguatan IHSG, di antaranya ADRO, BBRI, ANTM, ASII, dan TLKM. Namun demikian, tekanan juga datang dari beberapa saham besar seperti BUMI, BRPT, MEDC, BULL, hingga RATU yang membatasi laju penguatan indeks.

Di sisi lain, pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor yang membebani pasar. Rupiah ditutup melemah di level 16.860 per dolar AS, dengan pergerakan intraday berada di kisaran 16.850 hingga 16.880 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh naiknya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang berada di level 4,169 persen, serta penguatan indeks dolar AS (USD Index) ke level 98,9.

“Naiknya yield obligasi AS dan penguatan dolar membuat mata uang di negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan. Ini lebih bersifat eksternal dan belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental domestik,” jelas Gunawan.

Sementara itu, harga emas dunia juga tercatat menguat dan diperdagangkan di level 4.590 dolar AS per ons troy, atau setara sekitar Rp2,5 juta per gram. Secara teknikal, emas masih bergerak konsolidatif di sekitar level psikologis 4.600 dolar AS per ons troy.

“Dari sisi fundamental, emas masih memiliki peluang untuk menembus level psikologis 4.600. Penguatan harga emas terjadi di tengah tekanan yang dialami Bank Sentral AS, sehingga aset safe haven masih menjadi pilihan investor,” pungkas Gunawan Benjamin. (SK02)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *